Langsung ke konten
Daftar gratis
← Semua tulisan

Kumikata judo: catat pegangan lawan sebelum bertemu lagi

10 menit baca
Kumikata judo: catat pegangan lawan sebelum bertemu lagi
Isi tulisan

Dari kejurda sampai kejurnas, tidak jarang kamu kembali berhadapan dengan lawan yang pernah kamu temui; di klub, partner randori yang sama menunggumu tiap Selasa dan Kamis. Yang layak diperhatikan dari mereka bukan hanya bantingannya, tetapi jalan menuju bantingan itu — tangan mana yang lebih dulu meraih lengan judogimu, seberapa cepat mereka menyerang setelah dapat kerah, dan ke sisi mana mereka menyerang. Kalau catatan seusai tanding hanya berbunyi “kalah di pegangan”, tidak satu pun dari itu terjawab.

Ada empat hal yang bisa kamu amati, dari pinggir matras maupun dari dalam pertandingan:

  • Perebutan pegangan (kumikata, juga ditulis kumi-kata)
  • Serangan yang menyusulnya
  • Peralihan ke ne-waza
  • Hukuman

Beberapa baris catatan hanya menyimpan pengamatan itu supaya bisa diperiksa lagi dan dibawa ke pertemuan berikutnya; cara menghadapi lawan itu tetap harus kamu putuskan sendiri. Berikut saran dari kami tentang apa yang perlu diperhatikan dan dicatat.

Pegangan kanan atau kiri, sama dengan peganganmu atau tidak?

Mulailah dari yang paling mudah terlihat — lawan memakai pegangan kanan atau pegangan kiri — lalu sandingkan dengan peganganmu sendiri. Kalian bisa sama-sama kanan atau sama-sama kiri (ai-yotsu), bisa juga satu kanan dan satu kiri (kenka-yotsu).

Pasangan kuda-kuda ini bukan label permanen. Begitu salah satu dari kalian berganti sisi, pasangan kuda-kudanya ikut berubah. Karena itu, tulis pasangan kuda-kudanya per pertandingan, bukan sekali untuk selamanya.

Pegangan diberi tempat sebesar ini dalam catatan bukan tanpa alasan. Suzan Schoof, Froukje Sliedrecht, dan Marije Elferink-Gemser dari University of Groningen dan University Medical Center Groningen, dalam International Journal of Sports Science & Coaching tahun 2024, menelaah secara sistematis 23 studi tentang ciri yang membedakan judoka pada tingkat prestasi berbeda. Mereka menemukan bukti kuat bahwa ciri-ciri perebutan pegangan termasuk pembeda itu; judoka di tingkat lebih tinggi juga lebih mampu membanting lawan dan memvariasikan teknik.

Telaah ini berangkat dari kepentingan identifikasi bakat dan hanya merangkum studi pengamatan; tidak ada petunjuk di dalamnya soal pegangan mana yang harus kamu ambil. Yang kamu dapat darinya adalah alasan untuk memperhatikan pegangan, bukan resep.

Memberi tanggal dan konteks pada pengamatan semacam ini adalah bagian dari kebiasaan mengisi buku catatan lawan. Yang kamu catat adalah kejadian yang bisa diperiksa lagi, bukan label tetap untuk seseorang.

Urutan pegangan: apa yang dicari duluan, dengan tangan mana

Perhatikan pegangan pertama yang dicari lawan dan tangan yang dipakainya. Letaknya bisa di beberapa tempat:

  • Di lengan
  • Di kerah
  • Tinggi di kerah, lewat atas bahu
  • Lewat punggung
  • Silang ke kerah di sisi yang sama dengan tangannya
  • Di sabuk, kalau aturan yang berlaku membolehkannya

Lalu perhatikan reaksinya terhadap peganganmu:

  • Menyentaknya sampai lepas
  • Memutusnya dengan langkah
  • Membiarkannya, lalu memegang ulang di tempat lain

Dua hal lain juga penting — apakah dia menyerang dari satu pegangan atau menunggu sampai kedua tangannya memegang, dan berapa lama dia memegang sebelum menyerang. Tidak perlu stopwatch; cukup “langsung” atau “lama”, dengan tanda tanya kalau ragu.

Ada gambaran umum yang bisa jadi pembanding. Daniel Brandão Kashiwagura dan Emerson Franchini dari kelompok riset Martial Arts and Combat Sports di University of São Paulo memetakan literatur perebutan pegangan dalam Revista de Artes Marciales Asiáticas tahun 2022. Dari 286 publikasi yang disaring, 41 studi berbahasa Inggris yang terbit sampai Desember 2020 masuk telaah. Hasil pemetaannya menunjukkan empat pola:

  • Pegangan yang paling banyak dipakai adalah kombinasi kerah dan lengan.
  • Konfigurasi yang paling umum adalah kenka-yotsu.
  • Judoka yang lebih berpengalaman memegang judogi lebih singkat sebelum menyerang.
  • Judoka putra, terutama di kelas-kelas berat, memegang lebih lama dan lebih sering memakai pegangan bertahan dengan dua tangan di kerah.

Telaah itu juga mencatat bahwa dengan aturan sekarang, pegangan adalah prasyarat sebuah bantingan.

Sebagian besar studi yang dipetakan mengamati judoka elite. Hasilnya menggambarkan kecenderungan kelompok; satu orang bisa saja berbeda.

Bagi catatanmu, temuan itu berguna sebagai patokan; yang layak ditulis adalah di mana seorang lawan berbeda dari patokan itu. Misalnya, dia langsung menyerang dari pegangan pertama, betah berlama-lama dengan pegangan dua tangan, atau memakai pegangan yang tidak lazim seperti lewat punggung, silang, atau sabuk, dan apa yang dia lakukan dari pegangan itu.

Sebuah tangan menggenggam lengan judogi biru.
Perhatikan tangan mana yang dipakai lawan untuk mengambil pegangan pertama. Amati juga apa yang terjadi sesudahnya.

Teknik andalan, arah serangan, dan apa yang terjadi kalau gagal

Kalau lawan punya satu-dua teknik andalan (tokui-waza), biasanya itulah yang pertama diingat. Yang lebih jarang dicatat adalah hal-hal berikut:

  • Arahnya — ke depan atau ke belakang, ke kanan atau ke kiri dilihat dari dia sendiri
  • Persiapannya
  • Kombinasi dan gerak tipunya
  • Apakah sisi serangan itu sama dengan sisi pegangannya

Catat juga apa yang terjadi setelah serangan gagal, entah dia turun ke posisi turtle (bertahan dengan bertumpu pada lutut dan siku), langsung berdiri lagi, atau justru melakukan serangan balik.

Soal sisi pegangan dan sisi serangan, ada satu studi pengamatan yang perlu dibaca beserta batasannya. Javier Courel-Ibáñez dari University of Granada, bersama rekan-rekannya di Granada, University of São Paulo, dan University of Niš, mengamati secara sistematis 242 pertandingan putra dan putri elite dari 12 turnamen World Ranking dan menerbitkannya di International Journal of Performance Analysis in Sport tahun 2014.

Menyerang ke sisi yang sama dengan pegangan sendiri berkaitan dengan peluang lebih besar untuk mencetak angka dan memenangkan pertandingan, dan hubungan itu dilaporkan tidak bergantung pada jenis kelamin maupun kelas berat badan. Serangan searah pegangan dalam kenka-yotsu adalah konfigurasi yang paling efektif, terutama di kelas-kelas teringan; serangan searah pegangan dalam ai-yotsu dan serangan saat hanya penyerang yang memegang juga berkaitan dengan kemenangan.

Studi itu berupa pengamatan pada judoka elite, bukan eksperimen pada atlet klub. Jangan menyimpulkan darinya “selalu serang ke sisi pegangan”, apalagi menghitung peluang menang di pertandinganmu berikutnya. Kesimpulan praktis dari kami lebih sempit. Tulis empat hal ini:

  • Di sisi mana lawan memegang
  • Ke sisi mana dia menyerang
  • Apakah keduanya sama
  • Pasangan kuda-kudanya

Untuk arah serangan, risetnya lebih tua. Emerson Franchini dari University of São Paulo dan rekan-rekannya, dalam Perceptual and Motor Skills tahun 2008, membandingkan 17 peraih medali “Super Elite” dengan 16 peraih medali lain dari Kejuaraan Dunia dan Olimpiade antara 1995 dan 2001 — Super Elite di sini berarti yang terbaik di tiap kelas berat badan.

Kelompok Super Elite mencetak angka dengan lebih banyak jenis bantingan dan ke lebih banyak arah; jumlah teknik dan keragaman arah berkaitan dengan kemenangan dan angka. Studi ini hanya melihat peraih medali elite, bersifat pengamatan, dan ditulis sebelum beberapa perubahan aturan.

Anggap saja itu latar belakang mengapa arah layak dicatat; aturan sekarang dan hasil di tingkat klub bisa lain. Lawan dengan satu bantingan ke satu arah dan lawan dengan beberapa bantingan ke beberapa arah menuntut persiapan yang berbeda.

Ne-waza, hukuman, dan menit-menit terakhir

Di ne-waza, tulis hal-hal berikut:

  • Teknik apa yang dia coba untuk membalikkan lawannya
  • Kuncian, cekikan, atau patahan yang dia incar
  • Apakah dia memang bergumul di bawah atau menunggu sampai wasit menghentikan dan mengembalikan kalian ke posisi berdiri

Hukuman untuk kedua pihak juga masuk catatan, beserta alasannya sejauh yang kamu pahami — shido karena dianggap pasif, karena keluar arena, karena pegangan yang tidak kunjung diambil. Tidak perlu nomor pasal atau edisi peraturan; aturan berubah, dan yang kamu butuhkan hanya kejadiannya.

Tambahkan perilaku lawan di menit-menit terakhir dan di golden score kalau sampai ke sana, misalnya apakah dia terus menyerang atau lebih banyak menjaga jarak setelah unggul.

Tulis tindakan, bukan keadaan batin. “Berhenti menyerang setelah dapat waza-ari” adalah catatan; “dia takut” bukan.

Bagianmu sendiri dan hal-hal yang belum pasti

Catatan tentang lawan belum lengkap tanpa bagianmu:

  • Di mana kamu kalah dalam perebutan pegangan
  • Kapan kamu sendiri pasif
  • Hukuman apa yang kamu terima
  • Apa yang sempat berhasil, walau cuma sekali

Bagian terakhir itu yang paling sering terlewat. Kejadian yang bertentangan dengan kesan pertamamu justru harus disimpan, karena itulah yang nanti mencegahmu menganggap seorang lawan “tidak bisa dibanting”.

Tandai dari mana catatannya berasal — ingatan, video, atau cerita pelatih. Jumlah serangan yang tidak kamu hitung jangan diisi dengan angka kira-kira; biarkan kosong atau beri tanda tanya. Pola yang baru terlihat dua kali masih dugaan, dan kejadian yang menyimpang dari dugaan itu tetap disimpan.

Kalau ada rekaman, periksa bagian yang kamu ragukan dan tandai mana yang sudah dicek. Pembahasan tentang ingatan atlet menjelaskan mengapa detail seperti urutan pegangan layak ditulis segera, tanpa menetapkan batas jam atau hari yang pasti.

Isi catatan seusai pertandingan

Kami menyarankan agar setiap catatan menjawab tiga pertanyaan — apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, dan apa yang akan kamu coba lain kali. Bagi kami, tidak ada yang lebih penting untuk dicatat daripada ketiganya, di cabang bela diri maupun di olahraga raket. Konteks dan keterangan tentang lawan ditulis lebih dulu karena jawabanmu bergantung pada keduanya. Keempat penelitian di atas tidak mencari tahu apakah mencatat membuat hasil pertandingan judo lebih baik.

  1. Konteks. Acara dan babak, atau sesi randori; nama lawan; kelas berat badan; pasangan kuda-kuda (ai-yotsu atau kenka-yotsu); sumber pengamatan — ingatan, video, atau pelatih.
  2. Tentang lawan. Pegangan pertama dan tangannya; letaknya di judogi; reaksinya terhadap peganganmu; satu atau dua tangan sebelum menyerang; seberapa cepat dia menyerang. Bantingan dan arahnya, persiapannya, apakah sisi serangan sama dengan sisi pegangan, apa yang terjadi setelah gagal, dan perilakunya di ne-waza.
  3. Yang berhasil. Pegangan, serangan, atau pertahanan yang sempat berhasil, walau cuma sekali.
  4. Yang tidak berhasil. Kekalahan di perebutan pegangan, hukuman, dan kepasifan.
  5. Yang dicoba lain kali. Dua penyesuaian, masing-masing dengan keadaan yang membuatmu meninggalkannya.

Angka dua di bagian kelima bukan harga mati. Satu atau dua penyesuaian biasanya sudah cukup untuk dicoba dalam satu pertandingan; kalau kamu menambah lagi, rencananya justru rumit sebelum naik ke matras. Bagian yang belum pasti boleh kosong. Kalau kamu memakai sketsa matras atau pin di aplikasi, beri keterangan apa yang terjadi di titik itu — titik saja bukan catatan.

Seseorang mengenakan judogi putih dan menulis di buku catatan yang terbuka di pangkuannya.
Pilih dua penyesuaian untuk dicoba, lalu tentukan dalam keadaan apa kamu akan meninggalkan masing-masing.

Contoh rekaan: pertandingan kedua di kejurda

Contoh berikut sepenuhnya rekaan untuk menjelaskan cara mencatat. Nama dan kejadiannya bukan data pengguna aplikasi ataupun pengamatan penelitian.

Konteks. “Kejurda, pertandingan keduaku hari itu, kelas -73 kg. Lawan: Lutfi, pernah ketemu sekali sebelumnya. Dia kidal, aku pegangan kanan, jadi kenka-yotsu. Ditulis dari ingatan plus video HP Teguh, teman satu klub, yang cuma merekam sebagian; berapa kali dia menyerang, aku tidak tahu.”

Tentang lawan. “Pegangan pertamanya tangan kanan ke lengan kananku, baru tangan kiri ke kerah tinggi, lewat atas. Dia menyerang tidak lama setelah tangan keduanya masuk. Kebanyakan uchi-mata kiri ke depan. Waktu aku bertahan dengan membungkuk ke depan, dia ganti ko-uchi-gari. Dua-duanya ke sisi kirinya — searah pegangannya. Sesudah uchi-mata yang gagal dia langsung turun ke posisi turtle dan menunggu wasit menyuruh berdiri; tidak terlihat mencari apa-apa di bawah.”

Yang berhasil. “Sekali, o-uchi-gari-ku dari pegangan kerah satu tangan hampir dapat angka. Jadi seranganku bukannya tidak jalan sama sekali.”

Yang tidak berhasil. “Aku terus mencoba ambil kerah duluan, dan tiap kali begitu aku kalah berebut lengan. Kena shido karena dianggap pasif — setidaknya begitu yang kupahami.”

Lain kali, A. “Rebut lengan dulu dan jangan biarkan tangan kanannya masuk, lalu serang lebih cepat, langsung dari pegangan pertama. Hentikan kalau dia beralih mengambil kerah duluan, atau kalau seranganku datang terlalu lambat sampai tidak ada gunanya.”

Lain kali, B. “Saat dia bertahan dalam posisi turtle, coba satu teknik membalikkan yang sudah kulatih. Kalau dia langsung berdiri atau wasit cepat menghentikan, pusatkan lagi tenaga untuk berebut pegangan.”

Beberapa momen adu pegangan yang diingat samar-samar hanya petunjuk untuk diperiksa; jangan dibaca sebagai hitungan peluang. Catatan ini baru berguna kalau dua rencana tadi dibaca bersama pelatih sebelum bertemu Lutfi lagi, lalu halamannya diperbarui sesudah pertandingan.

Baca sebelum bertemu lagi, bawa satu pertanyaan ke randori

Di awal pertandingan berikutnya, periksa apakah polanya masih sama — lawan bisa berganti sisi atau kelas, dan eksekusimu hari itu bisa berbeda dari yang kamu bayangkan. Kalau ada yang bergeser, ubah rencananya di matras, bukan setelah kalah.

Setelah beberapa halaman terisi, bandingkan catatan dari beberapa lawan. Apakah kamu selalu kalah berebut lengan menghadapi judoka kidal? Apakah shido karena pasif selalu datang pada pasangan kuda-kuda yang sama?

Dari situ, bawa pertanyaan spesifik soal pegangan ke randori atau uchikomi, dan minta teman latihanmu meniru pegangan lawan itu — tangan kanan ke lengan, tangan kiri lewat atas — supaya rencana A sempat dicoba sebelum kejurda berikutnya. Cara serupa dipakai dalam catatan BJJ untuk partner latihan yang sama tiap minggu.

Catatan membantumu merumuskan apa yang mau dilatih; itu belum membuktikan bahwa mencatat menyebabkan hasil membaik. Ulasan riset refleksi atlet membahas batas bukti itu lebih jauh.

Kalau kamu ingin menyimpannya di ponsel, OpponentBook menyediakan diagram matras judo berbentuk persegi tempat kamu meletakkan pin, ditambah daftar posisi bernama. Daftarnya mulai dari “Berdiri — perebutan pegangan (kumi-kata)” dan “Kuzushi (merusak keseimbangan)” sampai enam posisi ne-waza, dari “Ne-waza — kesa-gatame” hingga “Ne-waza — bertahan dalam posisi turtle”. Nama posisi dan titik di diagram adalah dua pengamatan yang berbeda; tiap pin hanya mencatat salah satunya. Buku catatannya gratis.

Catatan yang disinkronkan memakai penyimpanan yang kamu hubungkan sendiri, dan basis data akun OpponentBook tidak menyimpan salinan buku catatan. Saat kamu meminta AI, isi yang diperlukan dikirim melalui server OpponentBook ke penyedia AI untuk diproses. Jika kamu menyalakan enkripsi ujung ke ujung (E2EE) yang opsional, penyedia penyimpanan tidak bisa membaca catatan yang disegel; foto, video, dan metadata berkas yang terlihat oleh penyedia penyimpanan tidak termasuk dalam perlindungan itu. Penjelasan privasi catatan taktik menguraikan batasnya.

Malam ini, ingat kembali pertandingan atau randori terakhirmu. Awali halamannya dengan pegangan pertama yang diambil lawan — tangan mana, ke mana — dan apa yang terjadi sesudahnya. Lalu tambahkan apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, dan dua hal yang ingin kamu coba lain kali.

Baca juga

Mulai bukumu sendiri

OpponentBook gratis selamanya, di penyimpananmu sendiri.

Daftar gratis